My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Perubahan Generasi

0
Posted in Pendidikan By rte4k

Perubahan Generasi

Perubahan Generasi

Perubahan Generasi

perubahan generasi kultur bisnis terhadap periode ini, yaitu dari kultur bisnis keluarga tertutup kekultur bisnis profesional yang terbuka yang memungkinkan profesional dari luar keluarga untuk duduk dikursi kepemimpinan perusahaan. Perubahan radikal menuju ke perusahaan profesional terbuka ini juga merupakan faktor perkembangan pasar modal,

yaitu dengan mulai banyaknya perusahaan keluarga yang go publik.

Periode ini jugta di catat sebagai periode kebangkitan dari bursa efek Surabaya Stock Exchange (SSX), dilahirkan kembali pada tanggal 6 juni 1989. Semua sekuritas yang tercatat di Bursa Efek Jakarta juga secara otomatis diperdagangkan di BES.

Periode kelima disebut dengan periode otomatisasi yang dimulai sejak tahun 1995. Karena peningkatan kegiatan transaksi yang dirasakan sudah melebihi kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk mengotomatisasi yang diterapkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) diberi nama Jakarta Automed Trading System (JATS) dan mulai dioperasikan pada hari senin tanggal 22 mei 1995. JATS adalah sistem otomatisasi menggunakan jaringan komputer yang di gunakan oleh broker untuk perdagangan sekuritas di Bursa Efek Jakarta. Dengan JATS mampu menangani sebanyak 50.000 transaksi setiap harinya,sedangkan dengan sistem manual hanya mampu menangani 3.800 transaksi tiap harinya saja. Ini juga meningkatkan rata-rata volume perdagangan setiap harinya yang dulu hanya sebesar 14,8 juta lembar dalam 1.606 transaksi dengan nilai Rp 46 Milyard untuk transaksi reguler, sekarang bisa mencapai 18 juta lembar dalam 2.268 transakai dengan nilai Rp 58 Milyard. Sedangkan untuk transaksi non-reguler yang dulunya hanya sebesar 19,3 juta lembar dalam 174 transaksi dengan nilai Rp 61 Milyard. Setelah menggunakan JATS mencapai sebesar 24,7 juta lembar dalam 222 transaksi dengan nilai Rp 82 Milyard. Sedangkan di BES juga diberlakukan system otomatisasi seperti di BEJ, dengan nama Surabaya Market Information dan Automated Remote Trading (S-MART). S-MART diresmikan pada tanggal 19 september 1996, sistem S-MART ini diintregasikan dengan sistem JATS di BEJ dengan sistem KDEI (Kliring Deposit Efek Indonesia).

Periode keenam adalah periode krisis moneter yang dimulai sejak Agustus 1997. Krisis moneter ditandai dengan meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok yang sangat tajam, dan penurunan nilai-nilai mata uang negara-negara asia terhadap Dolar Amerika. Penurunan nilai mata uang ini disebabkan karena spekulasi dari pedagang-pedagang valas, kurang percayanya masyarakat terhadap nilai mata uang negaranya sendiri dan yang tidak kalah pentingnya adalah kurang kuatnya pondasi perekonomian untuk mencegah permintaan Dolar Amerika yang berlebihan yang mengakibatkan nilai meningkat dan menurunkanya nilai rupiah, Bank Indonesia menaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Cara lain yang ditempuh oleh pemerintah dalam menanggulangi krisis moneter adalah menghapuskanya peraturan kepemilikan investor asing yang pada mulanya hanya sebesar 49 % menjadi 100 % ini berarti bahwa investor asing boleh memiliki saham-saham yang jumlahnya tidak terbatas, tapi kebijakan tersebut juga belum bias mengatasi penurunan mata uang dalm negeri terhadap Dolar Amerika.

Selanjutnya pada tanggal 1 November 1997, pemerintah mengumumkan melikuidasi 16 bank swasta nasional. Pengumuman yang cukup mengejutkan ini tidak banyak membantu meperbaiki lesunya pasar saham. Kondisi ini terus membentuk dengan berlengsernya Presiden Soeharto dan tragedi Mei 1998 yang mengakibatkan makin terpuruknya perekonomian Indonesia. Arah pengembangan pasar Indonesia di masa mendatang telah

dituangkan didalam cetak biru pasar modal Indonesia.Dalam cetak biru ini pemerintah telah bertekat ingin menjadikan pasar modal Indonesia menjadi pasar modal terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 nanti. Untuk dapat mencapai ini ada beberapa masalah yang memerlukan penanganan segera yaitu masalah efisiensi dan penyebaran informasi kepada pelaku bursa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti terhadap efisiensi pasar modal kita menyatakan bahwa tingkat efisiensi modal kita masih rendah.

Reaksi pasar terhadap informasi yang relevan dan diketahui publik masih cukup lama. Saat ini jumlah investor yang bermain di Bursa Efek Jakarta sekitar 400.000, sedangkan dari jumlah ini investor domestik sekitar 0,2 % dari jumlah penduduk jumlah ini relatif sangat rendah dibandingkan Malaysia (35 %), Jepang (20 %), dan Amerika Serikat (32 %). Dominanya pemodal asing merupakan salah satu penyebab pasar yang bergejolak. Berdasarkan nilai transaksi pemodal asing menguasai 69,5 % di tahun 1993 ; 64,2 % pada

tahun 1994 ; 61,3 % di tahun 1995 ; 63,2 % pada tahun akhir Desember 1996. Penjualan saham oleh pihak asing dalam jumlah yang sangat besar akan mempengaruhi harga saham secara signifikan. Pemodal asing juga sangat sensitif terhadap isu-isu politik. faktor ini menambah bergejolaknya harga saham pasar yang masih dangkal ditandai dengan rendahnya liquiditas perdagangan sampai dengan bulan Maret 1997 ; dari 258 emiten hanya 50 emiten yang sahamnay benar-benar liquid. Suatu saham bisa dikatakan likuid jika rata-rata transaksi perhari sebanyak 15 kali. Disamping likuiditas, kapitalisasi pasar yang tidak merata juga menjadi penyebab dangkalnya pasar modal kita. Data akhir Nopember 1996 menunjukan bahwa 40 jenis saham atau 16% dari total memiliki nilai kapitalisasi hampir 80% dari total nilai kapitalisasi pasar. Lebih dari 85 jenis saham memiliki kapitalisasi kurang sama dengan 0,5% dari total. Rendahnya saham yang dilepas kepublik juga menyambung persoalan efisiensi pasar modal kita. Dari 158 emiten yang diteliti tampak bahwa rata-rata kepemilikan saham oleh publik sebesar 26,3% dan hanya tujuh emiten atau sekitar 4% yang benar-benar perusahaan publik. Tantangan-tantangan diatas merupakan pekerjaan rumah yang harus segera ditangani oleh pengelola Bursa Efek Jakarta maupun BAPEPAM agar cita-cita menjadi pasar modal terbesar di Asia Tenggara tidak cuma angan-angan. D.1. Lembaga-lembaga yang Terkait di Pasar Modal Indonesia Sebagai suatu bisnis yang berdampak sosial sangat luas, pasar modal melibatkan banyak orang dan banyak lembaga.

Pihak-pihak yang terkait dalam kegiatn pasar modal indonesia sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal yaitu ( Sunariyah, 1997 : 26-28 ).

Sumber : https://rakyatlampung.co.id/lara-croft-relic-run-apk/