My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Periodisasi Masa Praaksara

0
Posted in Pendidikan By rte4k

Periodisasi Masa Praaksara

Periodisasi Masa Praaksara
Untuk jelas perkembangan manusia sejak awal kehidupannya, harus terutama dahulu mempelajari periodisasi atau pembabakan zaman di wajah bumi. Pembabakan mampu dijalankan secara geologis, arkeologis, dan perkembangan kehidupan manusia. Berikut ini, tiga pembabakan atau periodisasi itu;

A. Periodisasi Menurut Geologis
Geologis atau ilmu bumi yakni ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan perihal tersebut, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke didalam empat zaman. Menurut pakar geologi, histori perkembangan bumi mampu dikelompokan jadi empat periode zaman, yakni zaman arkaekum, palaeozoikum, mesozoikum, dan neozoikum.

1) Arkaekum
Zaman ini terjadi sekitar sepanjang 2500 juta tahun. Pada selagi itu kulit bumi tetap panas agar belum terkandung kehidupan.

2) Palaezoikum
Zaman ini terjadi sepanjang 340 juta tahun. Makhluk hidup yang terlihat pada zaman ini layaknya mikro organisme, ikan, amfibi, reptil, dan binatang yang tidak bertulang punggung. Zaman ini sering disebut termasuk zaman primer.

3) Mesozoikum
Zaman ini terjadi sekitar sepanjang 140 juta tahun. Pada zaman ini pertengahan ini, model reptil meraih tingkat yang terbesar agar pada zaman ini sering termasuk disebut zaman reptil. Zaman ini sering disebut termasuk zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan. Setelah berakhirnya zaman ini, maka terlihat kehidupan yang lain, yakni model burung dan binatang menyusui yang tetap rendah sekali tingkatannya. Adapun model reptilnya mengalami kepunahan.

4) Neozoikum
Zaman ini sering disebut zaman hidup baru yang mampu dibedakan jadi 2 zaman, yakni;
a) Tersier atau zaman ketiga
Zaman ini terjadi sekitar sepanjang 60 juta tahun. Zaman ini ditandai dengan perkembangan model binatang menyusui layaknya kera.

b) Kuartier atau zaman keempat
Zaman ini ditandai dengan ada kehidupan manusia agar merupakan zaman terpenting. Zaman ini dibagi kembali jadi 2 zaman, yakni zaman Pleistocen dan Holocen. Zaman Pleistocen atau Dilluvium terjadi sekitar 600.000 tahun yang ditandai dengan ada manusia purba. Zaman Holocen atau Alluvium terjadi sekitar sepanjang 20.000 tahun yang lalu dan tetap berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini, ditandai dengan munculnya manusia model Homo Sapiens yang punya tanda-tanda layaknya manusia yang hidup pada zaman modern sekarang.

B. Periodisasi Berdasarkan Arkeologis
Pembabakan zaman praaksara ini berdasarkan pada benda-benda peninggalan yang dihasilkan oleh manusia. pembabakan zaman praaksara menurut penemuan benda-benda peninggalan adalah sebagai berikut;
1) Zaman Batu
Zaman batu adalah zaman kala sebagian besar perkakas penunjang kehidupan manusia terbuat berasal dari batu. Zaman batu dibagi jadi 3 zaman, yakni;
a) Zaman Batu Tua / Palaeolithikum
zaman batu tua diperkirakan terjadi tidak cukup lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan manusia tetap benar-benar sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden), dan bergantung pada alam. Mereka mendapatkan makanan dengan langkah berburu, menyatukan buah-buahan, umbi-umbian, serta menangkap ikan. Cara hidup layaknya ini dinamakan food gathering. Jenis peralatan yang digunakan pada zaman batu tua terbuat berasal dari batu yang tetap kasar, layaknya kapak genggam (Chopper), kapak penetak (Chopping tool), peralatan berasal dari tulang dan tanduk binatang, serta alat serpih (flake) yang digunakan untuk menguliti hewan buruan, mengiris daging, atau memotong umbi-umbian.

b) Zaman Batu Pertengahan / Mesolithikum
Zaman Batu Pertengahan (Mesolithikum) diperkirakan terjadi tidak cukup lebih 20.000 tahun silam. Pada zaman ini, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua, yakni berbutu, menyatukan makanan, dan menangkap ikan. Mereka termasuk udah terasa hidup menetap di gua, pinggir sungai, maupun pinggir pantai.
Alat-alat perkakas yang digunakan pada era Mesolithikum nyaris sama dengan alat-alat pada zaman Palaeolithikum, hanya udah sedikit dihaluskan. Peralatan yang dihasilkan pada zaman Mesolithikum, pada lain kapak Sumatera (pebble), sejenis kapak genggam yang dibuat berasal dari batu kali yang salah satu sisinya tetap alami; kapak pendek (hache courte), sejenis kapak genggam dengan ukuran yang lebih kecil; pipisan, batu-batu penggiling beserta landasannya; alat-alat berasal dari tanduk dan tulang binatang; mata panah berasal dari batu dan termasuk flake. Adapun hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan manusia purba pada zaman batu pertengahan adalah sebagai berikut;
Ditemukannya Kjokkenmoddinger, yakni bukit-bukit karang hasil sampah dapur.
Ditemukannya Abris Sous Roche, yakni gua-gua karang sebagai tempat tinggal.
Manusia pada zaman ini udah mengenal seni yang berwujud lukisan pada dinding gua. Lukisan itu berwujud cap tangan dan babi hutan.
c) Zaman Batu Muda / Neolithikum
Pada zaman batu muda, kehidupan manusia praaksara udah berangsur-angsur hidup menetap tidak kembali berpindah-pindah. Manusia pada zaman ini udah terasa mengenal langkah bercocok tanam kendati tetap benar-benar sederhana, selain kesibukan berburu yang tetap selalu dilakukan. Manusia purba pada era neolithikum udah mampu membuahkan bahan makanan sendiri atau biasa disebut food producing.
Peralatan yang digunakan pada era neolithikum udah diasah sampai halus, bahkan ada peralatan yang berwujud sangan indah. Peralatan yang diasah pada era itu adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ada yang udah mengakibatkan anak panah dan mata tombak yang digunakan untuk berburu dan kepentingan lainnya.

d) Zaman Batu Besar / Megalithikum
Zaman Batu Besar dibangun atas konsep kepercayaan pertalian pada yang tetap hidup dengan yang udah mati dan pengaruhnya pada kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanah. Bangunan megalith terasa dibangun pada era bercocok tanam sampai era perundagian. Jenis-jenis bangunan megalith sebagai berikut;
(1) Punden Berundak
Punden berundak adalah bangunan pemujaan para leluhur berwujud bangunan bertingkat yang terbuat berasal dari bebatuan. Di atas bangunan itu biasa didirikan menhir. Bangunan ini banyak dijumpai di Kosala dan Arca Domas (Banten), Cisolok (Sukabumi), serta Pugungharjo (Lampung).

(2) Menhir
Menhir (men=batu; hir= berdiri) adalah bangunan berwujud batu panjang yang didirikan tegak menjulang sebagai media atau sarana penghormatan, sebagai tempat roh, sekaligus simbol berasal dari orang yang udah mati. Menhir banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah.

Dalam upacara pemujaan, menhir termasuk bermanfaat untuk menambatkan hewan kurban. Tempat-tempat penemuan menhir di Indonesia, yakni Pasemah (Sumatera Selatan), Pugungharjo (Lampung), Kosala, Lebak Bondowoso (Jawa Timur), Trunyan dan Sembiran (Bali), Ngada (Flores), Belu (Timor), Bada-Besoha dan Tana Toraja (Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan).

(3) Dolmen
Dolmen (dol= meja; men= batu) adalah batu besar dengan permukaan rata. Digunakan sebagai tempat menempatkan sesaji, pelinggih roh, dan tempat duduk ketua suku agar mendapat berkat magis berasal dari leluhurnya. Bangunan ini ditemukan di Pulau Samosir (Sumatera Utara), Pasemah (Sumatera Selatan), Leles (Jawa Barat), serta Pekauman dan Pakian di Bondowoso (Jawa Timur).

(4) Sarkofagus
Sarkofagus adalah peti mati berasal dari satu batu utuh terdiri atas wadah dan tutup. Mayat ditaruh didalam posisi berbaring meringkuk. Sarkofagus banyak ditemukan di Indonesia terutama di Bondowoso (Jawa Timur) dan Bali. Pada Sarkofagus sering dipahatkan motif kedok atau topeng didalam berbagai ekspresi untuk memelihara roh orang yang mati berasal dari masalah gaib.

(5) Kubur Batu
Kubur batu berwujud layaknya sarkofagus. Akan tetapi, dibuat berasal dari papan-papan batu. Banyak ditemukan di Pasemah (Sumatera Selatan ) dan Kajar, Gunung Kidul (DIY).

(6) Arca Batu
Beberapa arca simple melukiskan para leluhur binatang (gajah, kerbau, monyet). Arca batu ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi. Di Pasemah (Sumatera Selatan) masyarakat di sekitar mengaitkan arca batu dengan legenda Si Pahit Lidah. Arca batu termasuk ditemukan di Batu Raja dan Pager Dewa (Lampung), Kosala, Lebak Sibedug, dan Cisolok (Jawa Barat), Pekauman Bondowoso (Jawa Timur), serta Bada-Besoha (Sulawesi Tengah).

(7) Waruga
Waruga berpenampilan dan bermanfaat layaknya sarkofagus, namun dengan posisi mayat jongkok terlipat. Waruga hanya ditemukan di Minahasa. Selain udah mengenal upacara perkabungan bhs Melayu austronesia udah mengenal formalitas pengayuan, fetisisme, dan mutilisi (asah gigi, tindik telinga, potong rambut, sunat, serta cabut gigi.

2) Zaman Logam
Pada zaman ini udah sukses dibuat peralatan hidup berasal dari logam, sebab selagi itu udah terlihat golongan undagi atau golongan yang cekatan didalam laksanakan model usaha tertentu. Pada zaman ini manusia udah mengenal langkah melebur, mencetak, menempa, dan menuang.

Zaman logam dibagii jadi tiga zaman, yakni zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi. Namun di Indonesia hanya mengalami dua zaman logam, yakni zaman perunggu dan zaman besi.
a) Zaman Perunggu
Pasa zaman udah dikenal logam campuran pada tembaga dan timah hitam yang membuahkan perunggu. Teknik penuangannya dengan mengfungsikan langkah teknik cetak lilin (a cire perdue). Alat-alat yang dihasilkan pada zaman ini pada lain; kapak corong (kapak yang menyerupai corong), nekara, moko, bejana perunggu, manik-manik, cendrasa.

b) Zaman Besi
Zaman besi adalah zaman akhir berasal dari era prasejarah. Alat-alat yang digunakan pada era ini lebih sempurna berasal dari zaman sebelumnya. Dengan masuknya zaman besi ini, maka kebudayaan perunggu udah digantikan dengan zaman besi.

C. Periodisasi Berdasarkan Perkembangan Kehidupan
Perkembangan kehidupan manusia purba di Indonesia dibagi ke didalam tiga masa, yakni era hidup berburu dan menyatukan makanan, era bercocok tanam dan beternak, dan era perundagian dan kemahiran teknik.

1) Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Manusia purba pada era berburu dan meramu disebut dengan food gathering (mengumpulkan bahan makanan). Pada era ini manusia benar-benar bergantung pada sumber kekuatan alam. Kebutuhan hidup mereka ada pada alam. Agar mampu bertahan hidup, manusia pada era ini berburu dan menyatukan makanan. Untuk itu tidak mengherankan jikalau mereka hidupnya berpindah-pindah berasal dari satu tempat ke tempat lainnya yang ada sumber makanan. Kebiasaan hidup berpindah-pindah berasal dari satu tempat ke tempat lain disebut dengan nomaden.

Binatang yang mampu mereka buru, pada lain rusa, babi, burung atau menangkap ikan di sungai, danau, dan pantai. Perburuan yang mereka laksanakan di hutan-hutan, di sekitar tempat di mana mereka tinggal. Binatang yang sukses ditangkap umumnya mereka bakar sebelum saat di makan. Dengan demikian pada era berburu dan menyatukan makanan, manusia pada era ini udah mengenal api. Selain berburu, mereka termasuk menyatukan umbi-umbian atau tumbuh-tumbuhan yang mampu di makan.

Guna hadapi tantangan alam yang begitu keras, terutama berasal dari serangan binatang buas mereka hidup bekerja sama dan berkelompok. Dengan berkelompok dapat mempermudahkan mereka untuk menaklukan binatang buas atau binatang buruan. Hidup berkelompok memudahkan perburuan dan keamanan.

Berdasarkan alat-alat yang ditemukan, manusia purba pada era ini mengfungsikan alat berasal dari batu, tulang dan kayu. Alat-alat yang digunakan itu tetap kasar dan benar-benar sederhana. Contoh alat-alat yang ditemukan pada era berburu dan menyatukan makanan, pada lain chopper. Alat yang terbuat berasal dari batu ini berwujud kapak yang tidak bertangkai dan langkah mengfungsikan kapak ini digenggam dengan tangan. Fungsinya mampu digunakan untuk memukul atau menggali.

Daerah penemuan model kapak genggam pada lain Pacitan, Sukabumi, Ciamis, Gombong, Bengkulu, Lahat, Cabbenge, Bali, Flores, dan Timor. Selain kapak genggam, ditemukan pula alat lainnya yang terbuat berasal dari tulang belulang binatang. Bagian tulang yang digunakan umumnya anggota tanduk dan kaki. Alat berasal dari tulang ini dipergunakan untuk menggali umbi-umbian. Alat ini termasuk mampu digunakan sebagai ujung tombak untuk kepentingan perburuan serta menangkap ikan.

Alat-alat lainnya yang ditemukan adalah alat-alat serpih atau disebut dengan flakes. Bentuk alat ini simple dan dibuat kecil-kecil sekali dengan ukuran pada 10-20 cm. Alat-alat serpih ini bermanfaat sebagai pisau dan menyatukan makanan ini masuk pada era palaeolithikum atau zaman batu tua. Ciri utama berasal dari zaman ini, yakni alat-alat dibuat benar-benar sederhana, kasar dan tidak halus sebab belum diasah.

2) Masa Bercocok Tanam
Pada mulanya kehidupan manusia benar-benar bergantung pada apa yang dihidangkan oleh alam. Tahap kehidupan ini ada pada era berburu dan menyatukan makanan. Perkembangan selanjutnya, manusia mampu mengolah alam. Kemampuan awal mengolah alam untuk mencukupi keperluan hidupnya. Masuk pada era bercocok tanam. Pada era bercocok tanam, manusia praaksara punya kapabilitas sediakan makanan didalam jangka selagi tertentu.

Manusai Praaksara mampu sediakan makanan sendiri sebab pada bagian ini, manusia mampu mengolah tumbuh-tumbuhan dan mengembangbiakan binatang ternak. Manusia mampu menanam berbagai model tumbuhan yang semua tumbuh liar, layaknya menanam padi dan umbi-umbian. Mereka mampu mengolah tumbuhan itu agar mampu dimanfaatkan sebagai makanan.

Pada bagian bercocok tanam, tempat tinggal manusia tidak berpindah-pindah layaknya halnya pada era berburu dan menyatukan makanan. Pada era bercocok tanam, manusia secara berkelompok udah terasa hidup menetap. Mereka tidak harus berpindah-pindah kembali sebab persediaan makanan melalui bercocok tanam udah tercukupi.

Berhuma merupakan langkah bercocok tanam yang digunakan oleh manusia praaksara pada era itu. Cara berhuma digunakan dengan membersihkan hutan dan menanaminya. Karena sistem berhuma memakan selagi yang lama, manusia praaksara tinggal di tempat mereka berhuma dan membangun rumah. Rumah itu terbuat berasal dari kayu. Pada era itu, manusia praaksara hidup berpindah-pindah. Ketika tanah mereka oleh tidak subur lagi, mereka ubah berhuma ke tempat lain dan tempat tinggal itupun ditinggalkan. Teknik bercocok tanam dengan berhuma tetap selalu digunakan sampai selagi ini. Teknik berhuma digunakan pada daerah-daerah yang tidak cukup dengan sistem perairannya.

Masa bercocok tanam manusia praaksara membuahkan berbagai alat kehidupan. Alat-alat itu ada yang terbuat berasal dari batu, tulang, dan kayu. Alat atau benda-benda yang terbuat berasal dari batu pada era bercocok tanam ini masuk didalam zaman mesolithikum (zaman batu pertengahan) dan neolithikum (zaman batu muda). Berbeda dengan era sebelumnya, pada era bercocok tanam alat-alat yang dihasilkan udah mengalami perkembangan. Jika pada era berburu dan menyatukan makanan alat yang dibuat berasal dari batu tetap kasar, maka pada era bercocok tanam alat-alatnya udah terasa halus. Pada era ini udah dibuat termasuk tembikar atau periuk belanga yang terbuat berasal dari tanah review dan digunakan untuk memasak. Diduga kesibukan perdagangan termasuk udah terjadi pada era ini dengan sistem barter. Barang yang dipertukarkan berwujud hasil pertanian, alat pertanian, hasil ternak, dan hasil perikanan.

3) Masa Perundagian
Zaman logam merupakan fase terakhir perkembangan peradaban prasejarah. Manusia pendukung kebudayaan ini adalah ras Austronesia berasal dari daratan Asia. Ciri zaman ini adalah ada kapabilitas pada masyarakat Indonesia didalam pengolahan logam. Barang-barang yang digunakan mengfungsikan bahan berasal dari logam. Meskipun udah mengenal logam, tidak artinya pemanfaatan barang-barang berasal dari batu tidak digunakan. Masih banyak masyarakat pada zaman ini mengfungsikan alat-alat berasal dari batu.

Bahan logam persediaannya tetap terbatas. Dengan keterbatasan ini, hanya orang-orang tertentu saja yang mengfungsikan logam. Butuh keahlian tertentu untuk mengolah logam. Terbatasnya pemanfaatan bahan berasal dari logam, membuktikan terbentuknya suatu lapisan sosial. Ada group tertentu yang mampu punya bahan berasal dari logam. Karena bahan dan keahlian mengakibatkan logam benar-benar terbatas, maka untuk mendapatkan barang logam itu orang harus membelinya. Besar kemungkinan pada era perundagian ini orang udah laksanakan perdagangan bahan logam. Dengan perdagangan barang berasal dari logam ini masyarakat udah terasa berinteraksi dengan dunia luar.

Bersamaan dengan datangnya migrasi dan percampuran budaya, maka pertanian mengalami kemajuan pesat. Hal ini termasuk didorong oleh alat-alat pertanian yang tambah menunjang. Meningkatnya perkembangan pertanian mendorong masyarakat lain untuk bertempat tinggal di perkampungan yang sama agar berkembang jadi sebuah desa. Di desa-desa inilah sesudah itu peradaban perundagian tambah dikembangkan. Mereka terasa mengolah alat-alat pertanian, alat tempat tinggal tangga, dan alat upacara.

Baca Juga :