My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Pengertian Diksi Dan Kata Buku Serta Fungsi Dan Elemennya

0
Posted in Pendidikan By rte4k

Pengertian Diksi Dan Kata Buku Serta Fungsi Dan Elemennya

Pengertian Diksi Dan Kata Buku Serta Fungsi Dan Elemennya

Pengertian

Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dari pusat bahasa Departemen Pendidikan Indonesia adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

 

Fungsi

Fungsi dari diksi antara lain:

  1. Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
  2. Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
  3. Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
  4. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

Elemen Diksi

Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans.
Macam macam hubungan makna :

1. Sinonim.
Merupakan kata-kata yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.

2. Antonim.
Merupakan ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna /ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.

3. Polisemi.
Adalah sebagai satuan bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.

4. Hiponim.
Adalah suatu kata yang yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.

5. Hipernim.
Merupakan suatu kata yang mencakup makna kata lain.

6. Homonim.
Merupakan kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.

7. Homofon.
Merupakan kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.

8. Homograf.
Merupakan kata-kata yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.

Makna dalam Diksi

1. Makna Denotasi

Makna Denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus.

Contoh :

  1. Adik makan nasi.
    (Makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut.)

Contoh Kata lain Makna Denotasi :

  1. Adik kecilku sangat suka menggigit jari
  2. Zakiyan memiliki seekor sapi perah
  3. Tangan adikku terbakar ketika bermain api
  4. Kabarnya harga BBM akan naik bulan ini

 

2. Makna Konotasi
Kalau makna Denotasi adalah makna yang sebenarnya, maka seharusnya Makna Konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain. Terkadang banyak eksperts linguistik di Indonesia mengatakan bahwa makna konotasi adalah makna kiasan, padahal makna kiasan itu adalah tipe makna figuratif, bukan makna konotasi. Makna Konotasi tidak diketahui oleh semua orang atau dalam artian hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu. Misalnya Frase jam tangan.

Contoh :
– Pak Slesh adalah seorang pegawai kantoran yang sangat tekun dan berdedikasi. Ia selalu disiplin dalam mengerjakan sesuatu. Pada saat rapat kerja, salah satu kolega yang hadir melihat kinerja beliau dan kemudian berkata kepada sesama kolega yang lain “Jam tangan pak Slesh bagus yah”.

Penjelasan :
Dalam ilustrasi diatas, frase jam tangan memiliki makna konotasi yang berarti sebenarnya disiplin. Namun makna ini hanya diketahui oleh orang-orang yang bekerja di kantoran atau semacamnya yang berpacu dengan waktu. Dalam contoh diatas, Jam Tangan memiliki Makna Konotasi Positif karena sifatnya memuji.

Makna konotasi dibagi menjadi 2 yaitu konotasi positif merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan, dan konotasi negatif merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan.

Contoh Makna kata Konotasi lainnya :

  1. Karena besar kepala, Robert dijauhi teman-temannya (besar kepala:sombong)
  2. Alini anak kutu buku dan terus mendapat juara (kutu buku: rajin)
  3. Didin sudah tau akal bulus Bejo (akal bulus: licik/ penipu)
  4. Dian hanya sebagai sapi perah bagi bosnya (sapi perah: dimanfaatkan saja)

 

Manfaat Diksi

Setelah membaca beberapa penjelasan di atas. Ada 2 manfaat diksi, yaitu?

  1. Dapat membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif, bersinonim dan hapir bersinonim, kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
  2. Dapat membedakan kata-kata ciptaan sendiri fan juga kata yang mengutip dari orang yang terkenal yang belum diterima dimasyarakat. Sehingga dapat menyebabkan kontroversi dalam masyarakat.
  3. Contoh kalimat diksi, antara lain :
    · Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaaan masyarakat
    · Dia adalah wanita cantik (denotatif)
    · Dia adalah wanita manis (konotatif)
    · APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen (kata konkrit)
    · Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak

 

Kata Baku & Tidak Baku

1. Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Sumber utama yang telah ditentukan dalam pemakaian bahasa baku yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI). Kata baku umumnya digunakan dalam kalimat resmi( lisan dan tertulis).

Penggunaan kata baku

  1. Persuratan antar instansi
  2. Lamaran pekerjaan
  3. Karangan ilmiah
  4. Perundangan-undangan
  5. Surat keputusan
  6. Nota dinas
  7. Rapat dinas
  8. Pidato resmi
  9. Diskusi
  10. Penyampaian pendidikan
  11. Dan lain sebagainya.

2. Kata tidak baku adalah kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Biasanya kata tidak baku dipakai dalam bahasa percakapan sehari-hari.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kata atau bahasa yang tidak baku, yaitu sebagai berikut:

  • Pemakai bahasa tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata-kata yang dimaksud
  • Pemakai terpengaruh oleh orang yang biasa menggunakan kata tidak baku.
  • Pemakai bahasa tidak baku akan selalu ada karena tidak mau memperbaiki kesalahannya sendiri.

 

Sumber: https://pengajar.co.id/