My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Pendidikan Kita dan Impian Kesejahteraan Rakyat

0
Posted in Umum By rte4k

Pendidikan Kita dan Impian Kesejahteraan Rakyat

Pendidikan Kita dan Impian Kesejahteraan Rakyat

Pendidikan Kita dan Impian Kesejahteraan Rakyat

Sejarah pendidikan formal kita dimulai sejak diberlakukannya Politik Etis di Indonesia. Politik etis di bidang edukasi, sebetulnya, bertujuan menghasilkan tenaga administratif kelas menengah untuk melakukan fungsi-fungsi pemerintahan dan kepentingan bisnis Belanda di Indonesia. Bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan saat itu tidak ada urusannya dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Anak didik dipintarkan untuk selanjutnya dijadikan sekrup-sekrup kapitalisme lengkap dengan pelumasnya demi kelangsungan imperialisme di Indonesia. Namun apa yang terjadi, sekolah-sekolah saat itu justru menghasilkan pribadi-pribadi tangguh bervisi cemerlang seperti Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Dr Tjipto mangunkusumo, RA Kartini, Ki Hadjar Dewantoro.

Bandingkan dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Pendidikan nasional memiliki tujuan yang sangat-sangat mulia. Berikut ini kutipannya : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Sisdiknas Pasal 3 )

Namun apa hasilnya ? Setiap tahun ada segerombolan job seeker untuk memenuhi formasi PNS, BUMN atau perusahaan-perusahaan asing. Itulah kenapa Madura tetap miskin, Trenggalek tetap miskin, Lamongan tetap miskin, Jember tetap miskin. Belum lagi Papua, Aceh, yang kaya akan SDA tapi tetep miskin. Ironis bukan. Apakah pendidikan dan kaum terdidik absen dari kenyataan ini ??? Mungkin tidak absen tapi sering abstain. Hadir namun tidak berpartisipasi.

Lalu buat apa sekolah gratis, sekolah dibangun menghabiskan 20% APBN/APBD kita kalau hanya menjadi talang /saluran kapitalisme saja ???? Saya beri ilustrasi sekolah di Kabupaten Lamongan, misalnya. Jumlah lulusan siswa SD-SMP-SMA akan lari kemana ???? Katakanlah siswa yang lulus SD 100% masuk SMP, kemudian lulus 100% masuk SMA. Setelah itu ???? Jumlah kampus tidak memadai. Jadilah tumpukan pengangguran terdidik yang tidak mempunyai orientasi : tidak sekolah, tidak bekerja, tidak mengaji. Kalaupun ada yang kuliah, meski satu desa diwakili oleh satu siswa, mereka pilih kampus favorit di Surabaya, Malang, Bandung ataupun Jakarta. Dan jangan lupa, biasanya, dalam benak mereka adalah peluang mobilitas vertikal di luar Lamongan. Dapat kerja di Jakarta, menikah disana dan menetap disana. Lalu Lamongan dapat apa, mau jadi seperti apa, dan bagaimana nasib kesejahteraan rakyatnya 10-20 tahun ke depan ?????? Jangankan pemerintahnya, anak didik yang sudah terlanjur pintar dari APBD itupun males untuk memikirkannya lagi.

Mungkin bisa diberi ilustrasi sebagai berikut : Pemerintah diberi kewajiban oleh konstitusi untuk membangun saluran irigasi. Namun ketika irigasi baik hasil panen diekspor ke luar negeri, harga pangan mahal dan rakyat masih saja kelaparan. Teringat pepatah lama : “anak ayam mati di lumbung padi miliknya sendiri”. Sungguh menyedihkan sekaligus menyakitkan. Sebab di saat yang sama ada “bebek berenang yang tidak lupa minum “. Si bebek itu bernama Gayus Tambunan. Pendidikan kita mirip-mirip seperti saluran irigasi tersebut.

Saya jadi ingat Kick Andy. Para ilmuwan Indonesia yang berkiprah di luar negeri pernah dihadirkan. Luar biasa memang. Terutama pak Kawan Soetanto yang bisa menginspirasi orang-orang Jepang. Umumnya pendidikan dasar mereka di Indonesia. Baru kemudian menyebar, ada yang kuliah di Indonesia dulu baru mendapat master dan doktor di luar negeri. Ada pula yang memang langsung kuliah di luar negeri hingga meraih 4 gelar doktor dan profesor, seperti Pak Kawan Soetanto. Yang lebih menarik lagi adalah ketika Andy Noya menanyakan salah satu guestnya itu dengan pertanyaan klasik : mengapa anda tidak memanfaatkan ilmu anda di Indonesia ????? Ditanya demikian si Doktor ini hanya tertawa penuh arti, tanpa menjawabnya. Saya langsung ill feel melihat acara ini. Untung sudah memasuki segmen terakhir. Dalam hati saya protes keras. Mungkin, menurut saya, alasan mereka adalah karena Indonesia tidak cocok bagi penelitian, dana risetnya kurang, kemakmuran tidak terjamin.

Kalo semua orang pintar kualitasnya kayak begini, gimana Indonesia mau maju???? Untunglah Bung Hatta yang lulusan Belanda tidak seperti itu, Bung Karno yang lulusan ITB tidak seperti itu. Jadi merdeka bangsa kita gara-gara mereka. Pada titik inilah saya appreciate terhadap para politisi, pamong praja, dan pegawai-pegawai pemerintah. Sekalipun bobrok negara ini tapi masih ditunggoni.

Akhirnya, selama tidak ada orientasi yang kuat dan jelas dari pemerintah maka pendidikan kita hanya akan menjadi saluran kapitalisme. Pendidikan seharusnya kontekstual dengan kondisi yang dilingkupinya. Sambil menunggu pemerintah memperjelas dan memperkuat orientasinya dalam pendidikan setiap anak didik di sekitar kita harus diberi kesadaran akan relevansi mereka bagi peningkatan kesejahteraan individual, keluarga, dan bangsa. Kalo cuma distop pada kesejahteraan individual dan keluarga saja maka bangsa ini tidak akan kemana-kemana. Lalu, siapa yang melakukan ?? Tentu saja semua orang. Kalo saya sudah melakukannya 5 menit yang lalu, saat menyelesaikan tulisan ini..

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/strain-tactics-apk/