My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Meminta Jabatan

0
Posted in Pendidikan By rte4k

Meminta Jabatan

Suatu hari Abu Musa Al-Asy’ari r.a datang menghadap Rasulullah saw bersama dengan kedua sepupunya. Salah seorang sepupu Abu Musa r.a berbicara kepada beliau, “Wahai Rasulullah, berilah kita jabatan untuk mendukung tugas-tugasmu!”

Rasulullah saw menjawab, “Demi Allah, saya tidak dapat memberi tambahan jabatan kepada orang yang memintanya.”

Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Abu Hurairah r.a bercerita, “Ketika Rasulullah saw sedang berbicara di hadapan para sahabat, tiba-tiba datang seorang Arab Badui, lantas bertanya, ‘Kapankah berlangsung hari kiamat?’ Namun, Rasulullah terus melanjutkan pembicaraan. Sebagian orang menyebutkan bahwa Rasulullah mendengarnya, namun beliau membenci perkataannya itu. Sebagian orang menyebutkan bahwa beliau tidak mendengarnya. Setelah selesai berbicara, Rasulullah berkata, ‘Di mana si penanya berkenaan hari kiamat tadi?’ Orang yang bertanya tadi berkata, ‘Aku orangnya, wahai Rasulullah!’ Rasulullah berkata, ‘Jika amanah telah disia-siakan, tunggulah hari Kiamat.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Bagaimanakah amanah disia-siakan?’ Rasulullah berkata, ‘Jika urusan ini telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah hari kiamat’! ” (HR Bukhari)

Pada saat yang lain, Abu Dzar Al-Ghifari r.a dulu melakukan hal yang sama, yakni menghendaki jabatan. Kemudian Rasulullah saw. menanggapi permohonannya, “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah. Padahal, jabatan merupakan amanat yang terhadap hari kiamat nanti jadi sumber penyesalan dan kehinaan. Hanya orang-orang yang sanggup menunaikan hak dan kewajiban yang sanggup selamat berasal dari azab Allah SWT.”

Sejak saat itu Abu Dzar r.a selamanya menghindari diri berasal dari godaan jabatan dan harta kekayaan. Bahkan, tawaran jadi pemimpin di Irak ia tolak dan berkata, “Demi Allah, tuan-tuan takkan sanggup memancingku bersama dengan dunia tuan-tuan itu untuk selama-lamanya!”

Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Rasulullah saw dulu menasihati kawan akrab bernama Abdurrahman bin Samurah r.a Beliau bersabda, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menghendaki kepemimpinan. Karena kecuali engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau dapat ditolong (oleh Allah bersama dengan diberi taufik terhadap kebenaran). Namun, kecuali diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya dapat dibebankan kepadamu (tidak dapat ditolong).”

Pada suatu hari, Abbas r.a, paman Rasulullah saw mengunjungi beliau dan memohon sehingga diberi jabatan, “Ya Rasulullah, apakah kamu tidak bahagia mengangkatku jadi pejabat pemerintahan?” pintanya.

Abbas r.a tidak asal menghendaki jabatan karena ia adalah orang yang cerdas, berpengetahuan luas, dan punya sifat-sifat kepemimpinan. Namun, Rasulullah saw. tidak idamkan membebaninya bersama dengan tugas pemerintahan.

Kemudian beliau menyebutkan kepada sang paman bahwa akhirat lebih baik daripada jabatan di dunia. Beliau bersabda, “Wahai Paman, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik dan’pada menghitung-hitung jabatan pemerintahan.”

Pernyataan itu menenangkan hati Abbas r.a. sehingga runtuhlah keinginannya untuk punya jabatan. Namun, Ali r.a yang menyaksikan terhadap diri Abbas r.a terdapat sebuah potensi yang bermanfaat untuk kepentingan umat berbicara kepadanya, “Kalau kau tidak diterima jadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat jadi pejabat pemungut sedekah!”

Abbas r.a kembali menghadap Rasulullah saw dan ikuti anjuran Ali r.a, yakni menghendaki diangkat jadi pemungut sedekah. Rasulullah tersenyum seraya berbicara kepada pamannya, “Tidak kemungkinan saya mengangkatmu untuk mengurusi ‘cucian dosa’ orang.”

Pada saat yang lain, Abbas r.a kembali menemui kemenakannya. Namun, bukan dalam rangka menghendaki jabatan. Dengan segala kerendahan hati ia menghendaki anjuran kepada Rasulullah saw sehingga dirinya bermanfaat di sisi Allah SWT.

la berkata, “Aku ini pamanmu, usiaku telah lanjut dan ajalku nyaris tiba. Ajarilah saya suatu hal yang kiranya bermanfaat bagiku di sisi Allah!”

Rasulullah saw. menjawab, “Abbas, engkau adalah pamanku dan saya tidak berdaya sedikit pun dalam masalah yang berkenaan di sisi Allah, namun mohonlah kepada Tuhanmu ampunan dan keselamatan!”

la pun terima anjuran Rasulullah saw. Pada dasarnya, Abbas r.a cuma idamkan sisa hidupnya bermanfaat bukan cuma untuk dirinya. Jika ia tidak sanggup pakai potensinya melalui jabatan dan mengurus rakyat, ia idamkan bermanfaat di sisi Allah SWT.

Akan tetapi, Allah SWT tidak perlu siapa pun atau apa pun untuk menggerakkan Kerajaan-Nya. Allah SWT menciptakan malaikat dan mengutus para rasul bukan karena Allah SWT perlu pertolongan, namun itulah langkah Dia sesuaikan alam semesta beserta makhluk-Nya.

Sepeninggal Rasulullah saw, sang paman selamanya meluruskan pemimpin yang khilaf dan hidup terhormat di tengah-tengah para Khulafaur Rasyidin.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :