My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Mahasiswa Sebagai Mandataris Kyai

0
Posted in Pendidikan By rte4k

Mahasiswa Sebagai Mandataris Kyai

Mahasiswa Sebagai Mandataris Kyai

Mahasiswa Sebagai Mandataris Kyai

Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya pernah datang ke sebuah pesantren di pedalaman Pasuruan. Waktu itu ada pelatihan bagi para mahasiswa baru ITS yang diselenggarakan sahabat-sahabat PMII. Pesantren menjadi pelabuhan terakhir bagi panitia yang stress karena kekurangan dana.

Syukurlah, sang kyai menerima dengan senang hati. Makan-minum dijamu, kamar istirahat sudah disiapkan, ruang pertemuan untuk diskusi juga sudah tersedia. Semua Gratis, tis tis… “Lho, kok bisa?”, tanyaku dalam hati penasaran.

Rasa penasaran saya terobati ketika acara pembukaan pelatihan dimulai. Sang kyai sebagai tuan rumah memberikan sambutan yang tak terlupakan. Ada tiga pesan utama beliau : Saya Titip Kyai (Kulo Titip Kyai), Saya Titip NU(Kulo Titip NU), Saya Titip Indonesia (Kulo Titip Indonesia). Dalam pikiran sang kyai, para mahasiswa inilah yang akan menangkap spirit modernitas untuk selanjutnya digunakan dalam mengawal para Kyai dalam melestarikan ajaran Islam ahlus sunnah wal jama’ah. Kemudian setelah lulus kuliah mereka diharapkan bisa berjuang bersama-sama kyai dalam wadah NU yang secara konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI hingga kini.

Saat menulis artikel ini terbayang pengalaman penulis saat kuliah di ITS dulu. Kyai dilecehkan, dicaci maki, diolok-olok : ahlul bid’ah, ulama’ suu’,dsb. Simbol kyai yang dihajar habis-habisan kala itu adalah Gus Dur : seorang agen zionis, buta mata-buta hati, hobi melecehkan Islam, dst. Yang harus dipahami adalah bahwa Gus Dur hanyalah sebagai entry pointpenghujatan karena yang dimaksud tentu saja kyai-kyai NU yang tersebar di masyarakat. Ini perlu dilakukan agar legitimasi mereka bisa digantikan oleh kelompok-kelompok baru yang menjamur di kampus saat itu. Hal ini bisa dimaklumi karena selain Al Qur’an dan hadits mereka seperti diwajibkan membaca buku-bukunya Hartono Ahmad Jaiz dan sejenisnya. Andai saja mereka membaca bukunya Zamakhsari Dhofier soal Tradisi Pesantren, atau buku karangan KH. Syaifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang Pesantren dan tulisan alumnus UGM tentang Resolusi Jihad, Jihad Paling Syar’i tentu akan lain jadinya.

Tiga pesan kyai di atas masih relevan untuk kita saat ini. Meski mahasiswa yang dinasehati sudah lulus tapi nasehat tersebut perlu direnungkan kembali. Tiga pesan Kyai di atas seperti GBHNnya mahasiswa Nahdliyin yang pinter-pinter, yang bisa menikmati indahnya kata-kata : kampus, dosen wali, kerja praktek, praktikum, laboratorium, IPK, dan tugas akhir. Mahasiswa Nahdliyyin itu tak ubahnya mandatoris Kyai dalam menjalankan tiga pesan diatas.

Mahasiswa Nahdliyyin yang belajar teknologi, ilmu sosial humaniora, kebudayaan, ekonomi, hukum dan politik dsb, harus bersedia memperkuat barisan tanfidziyah NU dimana saja mereka berada, kelak. Selanjutnya bagi mahasiswa nahdliyyin yang belajar ilmu agama : ushuluddin, adab, syariah, dsb harus bersiap untuk menjadi generasi penerus Syuriyah di NU bersama-sama alumnus pesantren lokal maupun luar negeri. Meskipun tidak rigid, umum-tanfidziyah & agama-syuriyah, pembagian tersebut akan mampu menyerap partisipasi Mahasiswa Nahdliyyin di NU kelak ketika mereka lulus. Impactnya akan ada akselerasi gerakan dalam NU di masa depan. Saya setuju dengan logika yang dibangun dari pesan kyai tadi : menjaga Kyai = Menjaga NU = Menjaga Indonesia. Titik.

Jangan lupa bahwa istilah Kyai, Ulama, Intelectual dalam dunia pesantren adalah sosok yang memenuhi tiga komponen :

  1. Mengetahui agama Islam yang dibuktikan dengan tugas-tugas sebagai guru, muballigh, khatib (komponen ‘alim)
  2. Berakhlak mulia; sopan, tawaddlu’, ta’addub, sabar, tawakkal, ikhlash dan sebagainya (komponen wiro’i)
  3. Tidak loba terhadap urusan dunia, tetapi selalu mementingkan kehidupan di akhirat, sikap membiasakan dan mementingkan akhirat (komponen zuhud)

Sungguh luar biasa jadinya bila ada mahasiswa nahdliyyin yang bisa memadukan keduanya. Pinter sekaligus ‘aliim, jenius sekaligus wiro’i, dan sukses sekaligus zuhud. Namun jangan sekali-kali mengharapkan Diknas menghasilkan lulusan semacam itu. Kabotan, rek!

Baca Juga :