My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

contoh hukum wadhi

0
Posted in Umum By rte4k

Table of Contents

HUKUM WADH’I

Pengertian

Wadh’i ialah buatan atau bikinan. Hukum wadh’i adalah firman Allah SWT yang menuntut untuk menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang dari sesuatu yang lain. Hukum wadh’i merupakan hukum yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf yang mengandung persyaratan, sebab atau mani’. Hukum wadh’i adalah hukum yang berhubungan dengan dua sebab (sabab) dan yang disebabi (musabbab), antara syarat dan disyarati (masyrut), antara penghalang (mani’) dan yang menghalangi (mamnu’), antara hukum yang sah dan hukum yang tidak sah. Ini disebut hukum wadh’i karena saling berhubungan dan berkaitan.
B. Macam-Macam Hukum Wadh’i
Hukum wadh’i itu terbagi menjadi lima macam yaitu, sebab, syarat, mani’, azimah dan rukhsah, sah dan batal.
1. Sebab
Sebab dalam bahasa Indonesia disebut “sebab”, secara etimologis artinya adalah “sesuatu yang memungkinkan dengannya sampai pada suatu tujuan”. Dari kata inilah yang dinamakan “jalan” karena bisa menyampaikan seseorang kepada tujuan. Secara terminologi sebab adalah sesuatu keberadaannya dijadikan syari’ (pembuat hukum) sebagai pertanda keberadaan suatu hukum, dan ketiadaan sebab sebagai pertanda tidak adanya hukum. Misalnya, Allah menjadikan perbuatan zina sebagai sebab ditetapkannya hukuman, karena zina itu sendiri bukanlah penyebab ditetapkannnya hukuman, tetapi penetapan hukuman itu adalah syari’. Semua tanda yang melahirkan hukum dan apabila hubungan antara tanda dan hukuman nampak cocok itu disebut dengan “’illat”. Tetapi apabila hubungan keduanya tidak cocok itu disebut sebab. Sebab secara garis besar ada dua macam, sebab yang termasuk perbuatan mukallaf dan yang berasal dari perbuatan mukallaf. Sebab yang termasuk perbuatan mukallaf seperti tibanya waktu sholat dan menimbulkan wajib shalat. Dan sebab yang berasal dari perbuatan mukallaf seperti pembunuhan secara sengaja merupakan sebab adanya hukum qishahs (hukuman yang setimpal dengan perbuatan). Sebab dari segi objek dibagi menjadi dua, yaitu;
a. Sabab al-waqti, seperti tergelincirnya matahari sebagai pertanda wajibnya shalat zhuhur, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam (QS. Al-Isra’: 78)

Dirikanlah shalat karena (telah) tergelincir matahari…

b. Sabab al-ma’nawi, seperti mabuk sebagai penyebab keharaman khamar, sebagaimana sabra Rasulullah saw:

Setiap yang memabukkan itu adalah haram. (H.R. Muslim, Ahmad ibn Hanbal dan Ashhab al-sunan).


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/