My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

CAN I DREAM ( Bolehkah Saya Mimpi )

0
Posted in Umum By rte4k

CAN I DREAM ( Bolehkah Saya Mimpi )

A child of farm worker families can learn in school to develop their interests and talents, unfortunately it was just a dream.

A factory worker with joy over his wife returned home: “My wife’s affection, beginning today, apparently we can afford college earnings of our children.”

A president has been elected, he never spent campaign, he did not engage in corruption because they do not have dependents or other campaign bills.

Movement of people from Jakarta to East Nusa Tenggara, Papua, Sumatra, Kalimantan and other kedaerah spread, not because of catastrophic events but changes the welfare center.

Bolehkah Saya Mimpi

Seorang anak dari keluarga buruh tani dapat studi di sekolah untuk mengembangkan minat dan bakatnya, sayangnya itu hanya mimpi.

Seorang buruh pabrik dengan bahagia cita pulang ke rumah menghampiri istri : “Istriku sayang, menjadi hari ini tampaknya pendapatan kita dapat membiayai kuliah anak kita”.

Seorang pemimpin telah terpilih, dia tidak pernah mengeluarkan cost kampanye, dia tidak melaksanakan korupsi sebab tidak membawa tanggungan tagihan cost kampanye atau lainnya.

Perpindahan masyarakat dari Jakarta menuju Nusa Tenggara, Papua, Sumatra, Kalimantan dan menyebar kedaerah lain, momen itu bukan sebab bencana dapat namun perubahan pusat kesejahteraan.

Mimpi Pendidikan Anak Pribumi

Pada masa kolonial tidak banyak pribumi desa yang dapat melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi. Meski secara intelektual, semangat maupun keuangan mereka mampu, namun faktanya sedikit orang yang dapat meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi. Salah satu penyebab adalah dibatasinya kursi bagi pribumi untuk studi di sekolah-sekolah berbahasa Belanda. Ketika itu, pribumi yang bersekolah di sana hanya berasal dari golongan tertentu, umpamanya : keturunan bangsawan atau anak-anak pejabat ambtenaar.

Dibandingkan anak-anak bangsa lain yang tinggal di Hindia-Belanda, kesempatan studi pribumi relatif lebih kecil. Dalam Sejarah Pendidikan Indonesia karangan Prof. Dr. S. Nasution M.A. dikemukakan : pada th. 1930 anak Belanda berkesempatan 100 kali lebih baik untuk sekolah di M.U.L.O, 1000 kali lebih baik untuk bersekolah di sekolah tingkat menengah atau atas, dibandingkan anak-anak pribumi Indonesia. Begitupun anak-anak Tionghoa. Anak-anak Cina berkesempatan 15 kali lebih banyak untuk masuk sekolah berbahasa Belanda, 10 kali lebih berkesempatan studi di M.U.L.O, 35 kali lebih berkesempatan melanjutkan ke jenjang sekolah tinggi menengah/atas, daripada anak-anak pribumi asli.

Selain segi pembatasan, akses instansi pendidikan bagi pribumi tidak merata di semua propinsi, khususnya sesudah th. 1892. Mulai th. tersebut instansi pendidikan maupun sekolah sambungan nyaris seluruhnya berada di Pulau Jawa. Hingga th. 1930, M.U.L.O, sekolah pertama yang mengakses kesempatan luas bagi lulusan E.L.S dan H.I.S dari pribumi atau Indo-Belanda, nyaris hanya terkandung di Pulau Jawa saja. Kenyataan tersebut memaksa anak-anak luar pulau merantau ke Jawa untuk meneruskan sekolah. Tapi tidak semua anak rantau dapat menyelesaikan sekolahnya. Keterbatasan cost membuat anak-anak sekolah rendah yang melanjutkan sekolah putus di kelas I atau di kelas II.

Pendidikan Belanda yang mengacu pada pola pendidikan barat tergolong mahal untuk saku pribumi. Rata-rata pribumi kita,apalagi yang berasal dari luar pulau Jawa, tidak begitu besar penghasilannya. Pada umumnya pendapatan mereka, tidak tersedia yang melebihi f 150,- sebulan. Seperempat pendapatan orangtua sering dikorbankan untuk keberlangsungan pendidikan sang anak. Tambah berat bagi anak-anak daerah yang merantau. Orangtua harus buat persiapan cost pemondokan, transport, juga sandang-pangan bagi anak-anaknya yang bersekolah di Jawa.

Kesenjangan pendidikan pada anak-anak Belanda dengan anak-anak Indonesia, sebetulnya nampak begitu kentara. Waktu kesempatan studi bagi kalangan anak pribumi diperluas, tetap saja anak-anak Belanda lebih maju lebih dari satu cara dibandingkan bocah pribumi. Beban bagi pribumi bukan hanyalah soal pembatasan, kurikulum, cost pendidikan atau akomodasi bagi anak-anak daerah yang melanjutkan sekolah jauh dari pulau kelahiran. Fakta peristiwa mengungkapkan, bahwa anak Belanda sebetulnya lebih pernah mengecap pendidikan dasar, menengah dan atas (akhir abad 19). Kira-kira lebih cepat setengah abad dari anak-anak Indonesia.

Berbagai masalah yang membebani anak-anak Indonesia di dalam melanjutkan pendidikan di masa kolonial, berdampak pada kelangkaan sumber kekuatan bumiputera yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi lokal. Hanya 91 orang Indonesia yang tercatat di tiga perguruan tinggi yang tersedia pada th. 1930. Dan menjelang berakhirnya penjajahan kolonial Belanda, kuantitas orang Indonesia yang menyandang predikat mahasiswa hanya 3 orang/1 juta penduduk. Artinya, hanya 167 orang Indonesia yang studi di perguruan tinggi ketika itu.

Jauh melampaui masa kolonial, pendidikan layak ternyata tetap menjadi beban berat bagi lebih dari satu masyarakat. Semenjak komersialisasi (tahun 2000) menjangkiti perguruan tinggi- tak hanya perguruan tinggi swasta- jadi banyak orangtua yang jengah ketika anaknya harus cost melanjutkan sekolah. Masih sama dengan masa kolonial dulu, perguruan tinggi yang dianggap credible-pun umumnya tetap terkandung di Pulau Jawa. Universitas luar Jawa yang dianggap credible tetap dapat dihitung jari. Beberapa diantaranya adalah : Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Hasanuddin (Makassar), atau Universitas Udayana (Bali).

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

Jaman sebetulnya telah jauh berubah. Tak tersedia pembatasan diskriminatif bagi barang siapa untuk menentukan perguruan tinggi. Hanya saja, cost pendidikan, khususnya untuk perguruan tinggi yang tetap membengkak dari th. ke tahun, membuat masyarakat golongan bawah sukar mengakses pendidikan yang layak. Ya. Jaman sebetulnya telah berubah. Namun masyarakat berpenghasilan rendah, golongan bawah yang tetap berada di bawah garis kemiskinan, tidak banyak berubah nasibnya. Sistem pendidikan kolonial telah bersalin rupa menjadi sistem pendidikan komersial. Sehingga akses kesana memerlukan dana yang tidak sedikit. Itulah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat kecil di Indonesia. Pendidikan tinggi tetap sebuah mimpi, sebuah ketidak-niscayaan di dalam prasangka anak pribumi.

Baca Juga :