My Blog Sebuah Ruang Dunia Pelajaran Edukasi & Teknologi Terkini

Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal

0
Posted in Pendidikan By rte4k

Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal

Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal

Agriculture, Sebuah IFRS yang Gagal

Catatan penulis: tulisan ini sudah kedaluwarsa, saat ini bersifat sebagai catatan sejarah bahwa hal semacam ini pernah terjadi di masa lalu.

Tulisan kali ini akan membahas kegiatan saya beberapa hari ini: riset mengenai IAS 41: Agriculture.Saya merasa perlu untuk mempublikasikan hasil riset kali ini, karena temuan ini cukup penting & dapat mengubah cara pandang banyak orang mengenai IFRS.

Nah, dalam riset kali ini, saya seperti mencari ikan di air keruh (untungnya riset kali ini airnya tidak sekeruh waktu riset under common control yang konsep teori ekuitas dan entitasnya ribet banget). Analogi air keruh ini saya dasarkan pada kenyataan bahwa IAS 41 belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Walaupun dulu Indonesia punya PSAK 32: Akuntansi Kehutanan atau Pedoman Akuntasi Perkebunan, tapi sungguh, IAS 41 belum pernah ada di Indonesia.

Mungkin anda semua bertanya-tanya, apa itu IAS 41: Agriculture? Sama… Saya waktu pertama kali diberi penugasan juga bertanya-tanya tentang hal yang sama. Waktu memulai riset, saya cuma berbekal IAS 41: Agriculture yang saya unduh dari website IASB, power point presentasi dari MASB (Malaysian Accounting Standards Board), dan panduan dari atasan saya.

Untungnya saya pernah ingat isu mengenai IAS 41 yang diutarakan oleh orang IASB (International Accounting Standards Board) yang perawakan fisik dan mukanya mirip sinterklas tapi saya lupa namanya. Kurang lebihnya, dia bilang kalo IAS 41 tu nggak sempurna, masih banyak flawnya. Selain itu, orang-orang dari MASB pernah juga bilang kalo Fair Value Accounting di IAS 41 itu terlalu memaksa dan nggak sesuai kalau diterapkan ke semua biological asset. Ingatan-ingatan saya yang kelihatannya tidak berguna ini nantinya cukup membantu.

Kemudian setelah saya baca IAS 41 (cuma bagian pengaturannya aja, yang dibold), saya memahami kalau IAS 41 itu mengatur pengakuan, pengungkapan dan pengukuran aset biologik dan produk agrikultur yang merupakan hasil dari aset biologik itu. Contoh aset biologik itu sapi perah – produk agrikulturnya susu. Contoh lainnya, kambing – produk agrikulturnya daging kambing. Contoh lainnya lagi, silakan baca IAS 41 di sini. Pengukuran aset biologik dan produk agrikulturnya sama, diukur sebesar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Bedanya, untuk produk agrikulturnya, pengukuran itu dilakukan pada saat panen (point of harvest).

Beberapa hari setelah penugasan, saya masih lontang-lantung ke sana kemari di internet. Beberapa kali sempet nyasar ke indowebster buat donlod serial samurai sentai shinkenger, donlod game angry birds, dan donlod kaizoku sentai gokaiger. Selain itu, saya juga sempet main game plant versus zombie dan bikin tema angry birds buat HP saya, Nokia 5130XMBy the way, serial samurai sentai shinkenger itu keren banget! Saya kagum dengan Shinken Red – Takeru Shiba, pemimpin samurai sentai & kepala keluarga Shiba ke 19 yang super-super keren! Saya juga kagum dengan Shinken Green – Chiaki Tani, samurai muda penuh semangat juang yang mengabdi pada keluarga Shiba.

Ehm, kembali ke topik. Setelah saya lontang lantung di jalan yang benar seperti SSRN, googling jurnal-jurnal penelitian tentang agriculture, dan membaca lebih dari 20 jurnal penelitian (yang dibaca beneran cuma 1 jurnal keren, lainnya cuma skimming aja), akhirnya saya mendapat pencerahan dari kitab ijo saya (lho?).

Kitab ijo ini adalah kitab sakti akuntansi saya. Kitab ini warnanya ijo (ya iya lah, namanya juga kitab ijo), penulisnya Ki Suwardjono yang dibimbing oleh para malaikat. Asal mula dari kitab ijo ini cukup kontroversial. Ada yang bilang, ketika Ki Suwardjono bersemedi di sebuah gua, seorang malaikat datang dan memberinya pesan, kemudian Ki Suwardjono menuliskan pesan malaikat tersebut. Ada juga yang bilang, kitab ijo ini diturunkan dari langit, dibawa oleh malaikat dan diserahkan ke Ki Suwardjono. Sampai sekarang, saya sendiri tidak tahu dari mana asal muasal kitab ijo. Tapi satu hal yang pasti, kitab ijo milik saya ini saya beli dari BPFE UGM, dan tersedia juga di toko buku terdekat di kota anda.

Dalam suatu bagian di kitab milik saya yang halamannya hampir jebol, saya menemukan tulisan mengenai akresi. Di sini Ki Suwardjono memaparkan tentang konsep akresi. Konsep ini didasarkan atas sifat secara umum dari aset biologik yaitu:

  1. Biasanya, aset biologik dapat dijual setiap saat pada berbagai tingkat pertumbuhan dengan harga pasar tertentu. Seperti misalnya, kambing yang dapat dijual setiap saat pada umur berapapun dengan harga pasar yang cukup pasti.
  2. Semakin lama umur aset biologik tersebut, maka semakin tinggi harganya. Seperti misalnya, pohon jati yang belum ditebang, semakin tua semakin tinggi harganya.

Kedua konsep di atas merupakan dasar untuk mengakui pendapatan seiring dengan pertumbuhan.

Dalam konsep akresi, nilai dari aset biologik terus menerus bertambah karena adanya upaya yang wajar dari entitas. Selain itu, aset biologik ini merupakan hasil kegiatan operasi utama. Oleh karena itu, dalam keadaan semacam ini, pendapatan sudah terbentuk seiring dengan pertumbuhan dari aset biologik. Namun, pendapatan tersebut belum terealisasi. Sehingga kurang tepat kalau pendapatan ini diakui di laporan laba rugi (bahasa kerennya Pi-en-eL).

Nah, Ki Suwardjono sendiri sudah menjelaskan dalam kitab ijo tersebut bahwa jika menggunakan konsep akresi, maka pengukuran suatu aset biologik dapat didasarkan pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Konsep ini persis sama digunakan dalam IAS 41. Dalam standar tersebut, suatu aset biologik diukur sebesar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Khusus untuk produk agrikultur, pengukuran dilakukan pada saat panen (point of harvest). Permasalahannya, IAS 41 memukul rata semua aset biologik dengan perlakuan akresi ini. Selain itu, selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual yang belum terealisasi ini diakui di laba rugi.

Dampak dari pengakuan selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual yang belum terealisasi di laba rugi ini adalah, meningkatnya volatilitas kinerja keuangan yang sebetulnya belum terealisasi. Dalam kasus aset biologik tertentu, laba meningkat tajam di awal dan menurun tajam pada periode berikutnya.

Sebetulnya, beberapa penelitian menjelaskan bahwa pengakuan selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual di laba rugi ini hanya masalah periode saja. Pada saatnya, selisih perubahan nilai wajar ini akan terealisasi sendiri. Namun masalahnya, IASB tidak memperhitungkan bahwa ada aset biologik yang waktu realisasinya sangat lama. Seperti misalnya pohon jati. Dari waktu tanam hingga dapat dipanen, jeda waktunya sekitar 25 tahun. Selama 25 tahun itulah entitas harus mengakui selisih perubahan nilai wajar dikurangi biaya menjual di laba rugi. Padahal, kayu jati semakin tua, sudah jelas nilainya pasti akan naik terus. Artinya, dapat diperkirakan sendiri seberapa besar nilai belum terealisasi yang sudah diakui dan masuk ke saldo laba.

Selain permasalahan pengakuan nilai wajar yang belum terealisasi di laba rugi ini, IAS 41 tidak membedakan aset biologik. Padahal, ada aset biologik yang dimiliki tapi tidak untuk dijual dan hanya digunakan untuk memproduksi aset biologik lain. Seperti misalnya sapi pejantan, ayam pejantan, atau ayam petelur. Dengan sifat yang tidak untuk dijual ini, pengukuran aset biologik semacam ini dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan mengakui selisih perubahannya di laba rugi akan sangat menyesatkan. Selain itu, pengukuran dengan nilai wajar dikurangi untuk menjual bagi aset biologik yang dimiliki tidak untuk dijual, salah secara teoritis (lihat lagi dasar penalaran akresi dalam kitab ijo yang saya paparkan di atas).

IAS 41 juga tidak memperhatikan perlakuan atas aset biologik berdasarkan umurnya. Ada beberapa jenis aset biologik yang dimiliki kurang dari satu tahun. Contohnya adalah beberapa jenis ikan dan tebu. Untuk aset biologik semacam ini, pengukuran berdasarkan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual akan sangat tidak berpengaruh. Hal ini dikarenakan aset biologik tersebut sifatnya seperti persediaan dan masuk kategori aset lancar.

Malaysian Accounting Standards Board (MASB) telah memaparkan dalam seminar IAS 41 yang diadakan beberapa waktu silam di Jakarta (paparan dapat diunduh di website IAI). Dalam paparan tersebut, MASB memberi saran untuk membagi perlakuan atas aset biologik berdasar sifatnya. Aset biologik yang masuk dalam kategori bearer asset (tidak untuk dijual dan hanya digunakan berproduksi) diukur berdasarkan historical cost, tapi ketika masih dalam pengembangan, untuk yang sifatnya separuh consumable asset (untuk dijual) diukur berdasar nilai wajar. Selain itu, untuk aset biologik yang merupakan consumable asset, diukur berdasar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.

MASB saat itu belum memperhatikan aset-aset biologik berumur kurang dari satu tahun yang disebutkan dalam BC IAS 41. Sebetulnya, usulan dari MASB dapat diperlengkap lagi dengan membagi pengaturan atas aset biologik yang umurnya kurang dari satu tahun dengan perlakuan seperti persediaan.

Permasalahan teoritis dari IAS 41 di atas merupakan satu dari masalah-masalah lainnya. Berdasarkan penelitian yang dikeluarkan the Institute of Chartered Accountants of Scotland baru-baru ini (diterbitkan Februari 2011), terdapat banyak sekali kekurangan IAS 41 ketika diimplementasikan dalam praktik.

Sumber : https://penzu.com/public/0f583643